27 Januari, 2026

Tulisan seseorang dari WAG TENTANG OJOL

Ojol Boleh Mengeluh, Tapi Jangan Pasrah
Mengeluh itu manusiawi. Apalagi jadi ojol: order sepi, tarif ditekan, aturan berubah sepihak, badan capek tapi dompet tipis. Kalau ada ojol bilang hidupnya berat, itu wajar. Yang salah bukan keluhannya.

Yang jadi masalah itu kalau mengeluh tapi pasrah.Ojol itu seperti orang di jalan kehujanan. Hujannya bernama sistem: tarif murah, potongan besar, sanksi otomatis, persaingan brutal. Semua driver kena hujan yang sama. Tapi cara meresponsnya beda-beda.

Ada yang mulai ngatur jam narik.

Ada yang nyari order di luar aplikasi.

Ada yang nabung skill lain pelan-pelan.

Ada yang bangun relasi pelanggan tetap.

Dan ada juga yang tetap narik tanpa strategi apa pun, nurut semua aturan, tiap hari ngeluh di grup, tapi besoknya ngulang pola yang sama.

Hujannya bukan salah kita. Tapi kalau kita terus berdiri di bawah hujan sambil teriak “dingin… dingin…”, tanpa pakai jas hujan, tanpa berteduh, itu bukan dizalimi lagi

Itu bunuh diri pelan-pelan.

Mengeluh seharusnya jadi sinyal buat mikir:

“Apa yang bisa gue ubah dari cara gue kerja?”

Bukan malah mematikan akal sehat dengan kalimat: “Ya mau gimana lagi.”

Sistem boleh menekan, tapi pasrah total bikin kita makin gampang diperas. Aplikator senang kalau driver capek tapi tetap patuh. Pasrah itu bahan bakar eksploitasi.

Ojol yang sadar bukan yang paling kuat fisiknya, tapi yang masih mau mikir. Masih mau cari celah bertahan, berkembang, dan pelan-pelan lepas dari ketergantungan.

Mengeluh boleh. Nangis juga boleh.

Tapi setelah itu: bangkit, atur ulang, dan cari jalan keluar.

Karena hujan belum tentu berhenti, tapi kita masih bisa memilih

Mau terus basah, atau mulai melindungi diri. Mau terus ditindas atau melawan.

Tulisan seseorang dari WAG TENTANG OJOL

Ojol Boleh Mengeluh, Tapi Jangan Pasrah Mengeluh itu manusiawi. Apalagi jadi ojol: order sepi, tarif ditekan, aturan berubah sepihak, badan ...